Arfadia Review Arfadia Dalam Majalah Elshinta

by : arfadia
10 months ago

arfadia:

Review Arfadia Dalam Majalah Elshinta.


Keindahan Seni dan Desain Dalam Sebuah Program

Ilmu pemrograman berkembang pesat karena permintaan akan program juga meningkat drastis belakangan ini. Program itu bisa berbagai macam jenis, mulai dari program website sampai aplikasi pada handphone. Dalam membuatnya, program harus terdiri dari bahasa dan desain yang kompleks. Namun di tangan Tessar Napitupulu, program dan aplikasi tersebut bukan hanya sekedar desain. Ia berusaha menggabungkan seni ke dalam setiap program yang dibuatnya. “Produk saya terlihat spesial, karena saya selalu menyelipkan sense of art di dalamnya.”. Tessar berusaha memberikan yang terbaik bagi klien yang ditemuinya.

Melakukan Pekerjaan Sepenuh Hati

Bekerja di dalam sebuah organisasi internasional memberikan pengalaman, baik itu relasi atau keterampilan di suatu bidang. Hal itu pula yang dialami oleh Tessar saat ia bekerja di beberapa organisasi internasional. Disana, ia bekerja sebagai seorang pembuat ide peta jalan (road map) untuk bidang IT salah satu program pemerintah, serta dipercaya untuk memimpin suatu tim dalam mengimplementasikan ide yang dibuatnya. Selain itu, disana ia belajar banyak hal baru. “Karena saya berkecimpung degan organisasi itu, saya senang sekali dengan hal-hal baru yang ada disana. Terkadang, mereka butuh hal-hal baru diluar IT seperti desain grafis, animasi, photography, video shooting, musical composition untuk sebuah event, event organizer, bahkan sampain digital marketing model, semua saya pelajari dan mengajukan diri untuk ikut berpartisipasi.”. Tessar menambahkan, ia tidak mengharapkan bayaran atas apa yang  dilakukan di luar tugasnya. Karena bagi dirinya, dapat berkontribusi untuk organisasi merupakan kenikmatan tersendiri.

           “Saya sejak duduk di bangku SMU sangat aktif di organisasi Gereja HKBP Menteng. Sehingga saya mendapatkan koneksi yang bagus di lingkungan gereja. Saya bersyukur bahwa teman-teman disana memiliki potensi untuk membuat saya berkembang.”. Dari relasi tersebut, ia mendapatkan pekerjaan untuk membuat aplikasi, multimedia dan apapun yang berhubungan dengan IT.

           Di tempat kerja pun, ia melakukan pekerjaannya dengan sepenuh hati. “Saya memang senang dengan musik, film, dan hal-hal lainnya, itu saya coba kembangkan dengan program yang saya buat, jadi setiap program ada sense of art nya.”. Pria kelahiran 1984 ini memang senang dengan detail pada program yang dibuatnya. Terkadang, ia menghabiskan waktu yang sedikit lebih lama untuk memperhatikan detai yang ada di interface. “Misalnya untuk shadow atau color gradient pada sebuah tombol saja saya harus memperhatikan dengan teliti, agar program itu terlihat indah dan nyaman digunakan oleh user.”. Karena hal-hal tersebut programnya menjadi berbeda dibandingkan dengan programmer lainnya. Itu membuat program buatannya menjadi pilihan dari atasannya. “Meski ada program yang kita buat tidak terpilih, tetapi tidak perlu berkecil hati, karena program itu tidak selesai begitu saja, namun tetap tumbuh dan menjadi bagian dari program-program berikutnya.”.

Membangun Usaha Sendiri

           Karena merasa memiliki kemampuan di bidang IT dan multimedia, Tessar mencoba untuk membuat usaha di bidang itu. Saat membangun usahanya, ia masih bekerja di organisasi lamanya. “Saya berpikir bahwa apa yang saya miliki harus saya bagikan kepada orang lain, maka saya coba mengajarkan aa yang saya lakukan kepada teman-teman di tim saya waktu itu.”.

           Awalnya, perusahaan ini adalah tim yang berisi tiga orang yang memang direkrut oleh Tessar. “Kebetulan memang saya membuat usaha ini dengan modal yang sangat terbatas.”. Hasil sebagai konsultan digunakan untuk memesan sebuah kantor virtual dan biaya operasional lainnya. “Saya tidak bisa melupakan pitching pertama, dimana saya sampai mengajak fotografer untuk mendokumentasikan meeting itu. Bayangkan, kami belum menjadi PT, belum mempunyai portfolio perusahaan, belum mempunyai karyawan, kantor, peralatan, dan sebagainya. Kami hanya modal nekat dan portfolio pribadi saya saja,” tuturnya. Namun tidak disangka, salah satu perusahaan besar cokelat di Indonesia memilih Tessar menjadi vendornya untuk pembuatan Website, Portal Intranet, Photography, dan Internet Marketing. “Lalu setelah tender itu, kami harus berubah menjadi sebuah badan usaha karena kami mengikuti tender salah satu perusahaan BUMN. Pada tender yang kedua ini, ada prosedur mereka untuk survei lokasi kantor calon vendor, padahal saat itu saya masih bekerja di organisasi dan tim saya bekerja di tempatnya masing-masing.”. Maka, Tessar buru-buru mencari kantor domisili yang bisa menjadi lokasi usahanya. Dalam waktu dua minggu, ia mengusahakan pembuatan P.T. miliknya. Diakui Tessar, saat itu ia pusing sekali karena tempat belum ada. “Akhirnya kami menyewa sebuah kantor berukuran 24M2. Semua laptop adalah milik pribadi karyawan dan meminjam peralatan dari teman agar terlihat seperti usaha pada umumnya.”. Saat hari H tiba, ia menunjukkan kantor yang masih ala kadarnya kepada tim survei.  Awalanya, ia tidak yakin usaha miliknya akan terpilih karena saingan saat itu adalah perusahaan-perusahaan besar. Namun nasib berkata lain, usaha miliknya-lah yang terpilih untuk mengerjakan proyek tersebut. “Dari situ kami harus menunjukkan yang terbaik, revisi tanpa batas salah satunya, agar klien saya puas.”

Dalam menjalankan bisnis, tentu ada kendala yang dialami, salah satunya adalah tender yang tidak tembus. Ia mengatakan hal itu merupakan sesuatu yang lumrah dan menjadi sebuah pelajaran bagi dirinya. “Dari tender yang gagal diterima tersebut, kita bisa intropeksi apa-apa saja yang kurang dari usaha kita, dan bisa memetakan apa nilai lebih dari pesaing sehingga kita bisa mengembangkan lebih baik lagi usaha kita,” ujarnya. Dalam menghadapi persaingan yang memang ketat, Tessar yakin bahwa Tuhan memberikan rezeki pada bagiannya masing-masing. “Untuk usaha kelas kecil dan freelance, terkadang kami membagi order, namun dengan standar kualitas dari kami, setidaknya kami membagi rezeki sesuai dengan apa yang saya  cita-citakan.”. Tessar menambahkan, ia selalu berpikir bagaimana cara klien berpikir sehingga apa yang menjadi keinginan dari klien dapat tercapai.

           Selain itu, kendala yang paling berat yang ia alami adalah pengaruh negatif dari karyawan yang keluar secara bersamaan. “Terkadang, ada saja karyawan yang tidak suka atau kurang puas dengan perusahaan, itu wajar. Karena usaha ini, belum sempurna. Namun masalahnya ketika mereka keluar, mereka juga menghasut karyawan lain untuk keluar.”. Alhasil usahanya, pernah ditinggal hampir 70% pekerjanya. Namun kembali ia menyadari, bahwa itu merupakan pelajaran yang tidak tergantikan. Ia melihat bahwa kesalahan ada pada sistem yang berjalan saat itu. Maka Tessar merombak dan memperbaiki sistem sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi.

     Agar dapat terus berkembang, pria yang memiliki impian untuk membuat fil rohani ini harus berpikir keras untuk selalu membuat produk-produk baru yang berguna dan berkualitas. “Saat ini kami sedang membangun 3 produk besar yang akan digunakan untuk kalangan tertentu.”. Tessar berharap, usahanya bisa menjadi gudang ide dalam berinovasi dan berkreasi tanpa henti untuk membuat produk-produk, sehingga bisa menjadi saluran berkat bagi orang-orang yang terlibat dengan usahanya. “Saya ingin setiap orang yang berhubungan dengan usahanya bisa mendapatkan kesejahteraan kedepannya nanti.”