SEO Masih Perlu atau Sudah Digantikan AI?
Generative Engine Optimization

SEO Masih Perlu atau Sudah Digantikan AI?

SEO belum digantikan AI, tetapi perannya bergeser dari mengejar klik menjadi fondasi agar halaman ditemukan dan dikutip. Ini datanya, faktor ranking yang berubah, delapan langkah adaptasi, dan kapan perlu menambah GEO.

Masih perlu. AI tidak menggantikan SEO, tetapi mengubah apa yang dihasilkannya. Dulu SEO dinilai dari peringkat dan klik. Sekarang halaman yang dioptimasi juga menjadi bahan jawaban AI di Google, ChatGPT, dan Perplexity, sementara klik dari pencarian informasi makin tipis. Google sendiri menulis bahwa optimasi untuk pencarian AI generatif tetap termasuk SEO.

Kami perlu terbuka soal satu hal. Arfadia menjual jasa SEO dan GEO, jadi kami punya kepentingan dengan jawaban atas pertanyaan ini. Itu sebabnya semua angka di bawah berasal dari sumber primer yang tautannya kami sertakan, dan pendapat kami selalu diberi tanda. Pembahasan faktor ranking dalam bahasa Inggris ada di Is SEO Still Relevant? New Ranking Factors in AI Era.

Jawaban singkatnya, masih perlu dengan peran yang berubah

SEO masih perlu. Google menyatakan bahwa mengoptimalkan untuk fitur AI generatif di Search tetap berarti SEO, dan halaman harus terindeks serta memenuhi syarat cuplikan sebelum bisa dijadikan rujukan oleh AI Overviews maupun AI Mode. Yang berubah adalah hasilnya. Peringkat bagus tidak lagi menjamin klik, dan juga tidak menjamin dikutip AI. Menurut kami, SEO kini berperan sebagai fondasi, sedangkan GEO adalah lapisan tambahan untuk bisnis yang pembelinya meriset lewat AI.

Menurut pengamatan kami, perubahan perannya terlihat di tiga hal. Pertama, tujuannya bertambah, dari mengejar klik menjadi juga mengejar kutipan. Kedua, satuan kerjanya bergeser dari satu halaman per kata kunci ke satu halaman yang menuntaskan sebuah topik. Ketiga, laporannya tidak cukup lagi berisi posisi dan klik.

Menurut pengamatan kami, kesalahan yang paling mahal justru datang dari dua kubu yang berlawanan. Ada yang menghentikan SEO karena mengira AI sudah mengambil alih. Ada juga yang terus mengejar peringkat tanpa sadar bahwa klik untuk posisi yang sama sudah menipis.

Data perubahan perilaku pencarian

Gambaran besarnya begini. Orang belum meninggalkan mesin pencari, tetapi sebagian pencarian kini selesai tanpa membuka situs mana pun.

Di Indonesia, Google masih menjadi pintu utama. Menurut StatCounter, Google memegang 91,42% pangsa mesin pencari di Indonesia pada Oktober 2026, jauh di atas Bing dengan 3,44%. Angka ini hanya membandingkan mesin pencari satu sama lain. Ia tidak menjawab berapa banyak pertanyaan yang kini pindah ke chatbot.

Di sisi lain, pemakaian AI sudah sangat besar. Per Februari 2026, OpenAI melaporkan pengguna mingguan ChatGPT sudah melewati 900 juta. Survei McKinsey pada Agustus 2025 terhadap 1.927 konsumen Amerika Serikat menemukan separuh responden sengaja mencari lewat mesin pencari bertenaga AI. Untuk pembelian antarbisnis, Forrester mencatat 94% pembeli bisnis sudah memakai AI dalam proses pembeliannya, naik lima poin dari setahun sebelumnya.

Dampaknya ke klik sudah terukur. Pew Research Center mengamati perilaku browsing 900 orang dewasa Amerika Serikat selama Maret 2025, mencakup 68.879 pencarian Google. Saat ringkasan AI muncul, hanya 8% kunjungan yang berujung klik ke hasil pencarian biasa, dibanding 15% saat ringkasan tidak muncul. Klik ke tautan di dalam ringkasan itu sendiri hanya sekitar 1%. Ringkasan muncul di 18% pencarian, dan jauh lebih sering untuk pertanyaan panjang, yaitu 53% untuk pencarian sepuluh kata atau lebih dibanding 8% untuk pencarian satu atau dua kata.

Ahrefs menghitung dampaknya di posisi teratas. Dalam studi yang terbit Februari 2026 atas 300 ribu kata kunci, CTR posisi satu untuk kata kunci yang memunculkan AI Overviews pada Desember 2025 diperkirakan 58% lebih rendah daripada kalau AI Overviews tidak ada. Datanya berasal dari Search Console versi desktop, dan Ahrefs tidak menyebut negara asal datanya.

Meski begitu, rujukan dari AI belum menggantikan pencarian sebagai sumber pengunjung. Penelitian Kaiser dan Schulze yang terbit di jurnal Marketing Science menganalisis 973 situs e-commerce dengan pendapatan gabungan lebih dari 20 miliar dolar AS. Selama Agustus 2024 sampai Juli 2025, trafik dari model bahasa besar masih di bawah 0,2% dari seluruh trafik situs-situs itu. Nilainya paling terasa untuk produk kompleks yang butuh banyak informasi.

Dari data itu kami menarik dua kesimpulan. Pertama, rujukan dari AI masih jauh lebih kecil daripada pencarian, jadi SEO belum bisa ditinggalkan. Kedua, untuk pertanyaan informasi yang panjang, jawabannya bisa selesai di halaman Google atau di dalam chatbot, sehingga mengukur SEO hanya dari klik akan membuat Anda melewatkan sebagian ceritanya.

Data perilaku pencarian

Pencarian Belum Hilang, Kliknya yang Menipis

Lima angka dari sumber primer yang menjelaskan kenapa SEO masih perlu, sekaligus kenapa cara mengukurnya harus berubah.

Pencarian masih besar

91,42%

Pangsa Google di pasar mesin pencari Indonesia, semua perangkat.

StatCounter, Oktober 2026

900 juta+

Pengguna mingguan ChatGPT di seluruh dunia.

OpenAI, Februari 2026

Tapi kliknya menipis

8% vs 15%

Kunjungan halaman hasil Google yang berujung klik ke hasil biasa, dengan dan tanpa ringkasan AI.

Pew Research Center, 900 orang dewasa AS, Maret 2025

58% lebih rendah

Perkiraan CTR posisi satu untuk kata kunci yang memunculkan AI Overviews.

Ahrefs, 300 ribu kata kunci, data desktop Desember 2025

Rujukan dari AI masih kecil

di bawah 0,2%

Porsi trafik dari model bahasa besar di 973 situs e-commerce, Agustus 2024 sampai Juli 2025.

Kaiser dan Schulze, Marketing Science (2026)

Cara membacanya. Angka-angka ini berasal dari pasar, periode, dan metode yang berbeda, jadi jangan dijumlahkan atau dibandingkan langsung. Polanya yang penting. Mesin pencari tetap menjadi jalur besar, sementara klik dari pencarian informasi berkurang.

Sumber: StatCounter Global Stats • OpenAI (27 Februari 2026) • Pew Research Center (22 Juli 2025) • Ahrefs (4 Februari 2026) • Kaiser dan Schulze, Marketing Science (2026)
Created by Arfadia • arfadia.com/blog

Apa yang berubah dari faktor ranking di era AI

Kabar baiknya, fondasinya tidak berubah. Panduan resmi Google untuk fitur AI generatif di Google Search, yang terakhir diperbarui 10 Juli 2026, menjelaskan bahwa fitur tersebut bertumpu pada sistem peringkat dan sistem antispam Search. Situs harus disertakan di setelan fitur AI generatif Search Console, yang aktif secara bawaan, dan dokumentasi fitur AI Google mensyaratkan halaman terindeks serta memenuhi syarat tampil dengan cuplikan.

Panduan yang sama juga meluruskan beberapa mitos. Untuk Google Search, Anda tidak perlu membuat file llms.txt atau markup khusus AI, tidak perlu memecah konten menjadi potongan kecil, dan tidak perlu menulis dengan gaya khusus untuk AI. Structured data juga bukan syarat untuk tampil di jawaban AI Google, walaupun masih berguna agar halaman layak tampil sebagai hasil kaya.

Yang berubah ada di lima tempat.

Peringkat bukan satu-satunya jalan untuk dikutip

Studi Ahrefs yang terbit Maret 2026 memeriksa 863 ribu halaman hasil pencarian. Dari semua URL yang dirujuk AI Overviews, cuma 37,9% yang ikut tampil di sepuluh blok teratas untuk kata kunci tersebut, termasuk fitur seperti featured snippet, sementara 31% malah berada di luar 100 besar. Di luar Google, jaraknya lebih lebar. Studi Ahrefs lainnya atas 15 ribu prompt menemukan rata-rata hanya sekitar 12% URL yang dirujuk asisten AI masuk 10 besar Google untuk prompt yang sama. Perplexity paling dekat dengan Google di 28,6%, sementara asisten lain berkisar di 8%. Karena itu, menurut kami, sitasi AI perlu dipantau sendiri, tidak cukup ditebak dari posisi.

Satu pertanyaan dipecah menjadi banyak pencarian

Saat memperkenalkan AI Mode pada Maret 2025, Google menjelaskan bahwa AI Mode memakai teknik yang disebut query fan-out, yaitu menjalankan banyak pencarian terkait secara bersamaan untuk berbagai subtopik. Menurut kami, halaman yang menjawab pertanyaan utama sekaligus subpertanyaannya punya peluang lebih besar untuk terpakai. Tapi Google juga memperingatkan bahwa membuat konten terpisah untuk setiap variasi pencarian demi memanipulasi peringkat atau jawaban AI melanggar kebijakan penyalahgunaan konten berskala.

Sebutan merek di web ikut menentukan

Ahrefs meneliti 75 ribu merek pada 2025 dan menemukan sebutan merek di web berkorelasi 0,664 dengan kemunculan merek di AI Overviews. Jumlah backlink hanya 0,218. Ahrefs pun menegaskan angka ini menunjukkan hubungan, belum tentu penyebab. Google juga menulis bahwa mengejar sebutan yang tidak otentik di berbagai situs tidak sebermanfaat yang dikira. Jadi yang dicari adalah sebutan yang didapat, bukan yang dibeli.

Konten perlu bukti yang bisa dikutip

Dalam eksperimen makalah GEO karya Aggarwal dan kawan-kawan, yang diterima di konferensi KDD 2024, tiga metode dengan hasil terbaik untuk menaikkan visibilitas di jawaban mesin generatif adalah menyisipkan statistik, kutipan, dan rujukan ke sumber. Kenaikannya bisa mencapai 40% pada benchmark buatan para penulisnya, dengan hasil yang berbeda antarbidang. Bagi kami, ini alasan setiap klaim di halaman bisnis sebaiknya punya angka dan asal yang jelas.

Hasilnya berubah-ubah, jadi cara mengukurnya ikut berubah

Profound membandingkan jawaban AI dari Juni ke Juli 2025 dan mendapati 40 sampai 60% domain yang dikutip sudah berbeda dalam sebulan. Satu kali cek tidak cukup. Di sisi Google, Search Console kini punya laporan performa AI generatif yang menghitung tayangan tautan situs Anda di AI Overviews dan AI Mode, dan sejak 31 Agustus 2026 laporan itu digulirkan untuk semua situs, meski bisa belum tampil bila tayangan situs masih terlalu sedikit.

Tabel berikut merangkum pergeserannya.

Faktor Saat hasil pencarian berupa daftar tautan Saat jawaban disusun AI
Syarat dasarHalaman bisa dirayapi dan terindeksSama, ditambah boleh tampil dengan cuplikan dan situs tetap disertakan di setelan fitur AI generatif Search Console, yang aktif secara bawaan
PeringkatPenentu utama jumlah klikTetap membantu, tetapi hanya 37,9% URL yang dikutip AI Overviews berasal dari 10 blok teratas (Ahrefs, Maret 2026)
Satuan kerjaSatu halaman untuk satu kata kunciSatu halaman kuat yang menjawab subpertanyaan terkait, karena AI Mode Google menjalankan banyak pencarian sekaligus
Sinyal otoritasBacklinkSebutan merek di web berkorelasi lebih kuat dengan kemunculan di AI Overviews dibanding jumlah backlink (Ahrefs, 75 ribu merek)
Isi halamanRelevansi dengan kata kunciBukti yang bisa dikutip, seperti data bersumber, kutipan pakar, dan pengalaman langsung
MetrikPosisi, klik, dan CTRDitambah tayangan di fitur AI, sitasi, dan share of voice di panel prompt
Frekuensi cekPosisi rata-rata dipantau berkalaPerlu diulang karena 40 sampai 60% domain yang dikutip bisa berganti dalam sebulan (Profound)

Langkah adaptasi praktis

Delapan langkah ini kami susun dari urutan kerja yang biasa kami pakai. Urutannya penting. Langkah awal menentukan apakah langkah berikutnya ada gunanya.

  1. Cari halaman yang posisinya bertahan tapi kliknya turun. Di Search Console, bandingkan dua periode untuk kueri informasi. Kalau posisi rata-rata stabil sementara CTR turun, menurut kami ringkasan AI kemungkinan mengambil sebagian klik. Halaman seperti ini tidak gagal SEO. Ia perlu tujuan baru, yaitu dikutip.
  2. Pisahkan halaman informasi dari halaman yang menghasilkan uang. Halaman layanan, harga, lokasi, dan produk tetap menjadi tempat transaksi terjadi. Prioritaskan SEO di sana, lalu perlakukan artikel informasi sebagai bahan yang layak dikutip AI.
  3. Tuntaskan satu topik di satu halaman. Daftar subpertanyaan yang biasanya muncul setelah pertanyaan utama pembeli, lalu jawab di halaman yang sama. Cara ini sejalan dengan query fan-out tanpa melanggar kebijakan Google soal konten massal.
  4. Tambahkan hal yang tidak bisa diringkas dari tempat lain. Data milik sendiri, harga nyata, studi kasus, foto lokasi, dan pengalaman langsung memberi halaman Anda alasan untuk dikutip, bukan sekadar mengulang sumber lain.
  5. Tunjukkan siapa penulisnya dan dari mana angkanya. Menurut kami, nama penulis dengan halaman profil, tanggal pembaruan, dan tautan ke sumber primer membantu pembaca dan mesin menilai apakah konten bisa dipercaya.
  6. Dapatkan sebutan, jangan membelinya. Liputan media, keanggotaan asosiasi, wawancara, dan ulasan pelanggan asli menambah sebutan merek Anda di web dengan cara yang tidak bertentangan dengan panduan Google.
  7. Periksa kelayakan teknisnya. Halaman terindeks, tidak diberi nosnippet atau batas cuplikan yang terlalu ketat, dan situs tetap disertakan di setelan fitur AI generatif Search Console, yang aktif secara bawaan. Untuk ChatGPT dan Perplexity, pastikan robots.txt tidak memblokir OAI-SearchBot dan PerplexityBot, dua crawler yang dipakai untuk menampilkan situs di hasil pencarian keduanya.
  8. Tambahkan metrik baru ke laporan bulanan. Selain posisi dan klik, catat tayangan di laporan performa AI generatif Search Console, trafik rujukan dari chatbot di analytics, dan hasil panel prompt yang diulang. Di Arfadia, satu prompt kami jalankan minimal lima kali per platform, dan merek baru kami hitung tercakup bila muncul di dua dari lima jawaban. Cara menyusun panel prompt dan enam metriknya ada di Apa Itu AI Visibility dan Kenapa Penting untuk Bisnis. Pilihan tools-nya kami bandingkan di artikel ini.

Menurut kami, langkah 4 sampai 6 adalah wilayah tempat SEO dan GEO bertemu. Pekerjaannya sama, hanya ukuran keberhasilannya yang bertambah. Arti GEO dan batasnya dengan SEO kami jelaskan di glosarium GEO.

Kapan SEO klasik masih cukup dan kapan perlu tambah GEO

Tidak semua bisnis perlu GEO sekarang. Menurut kami, urutannya tetap SEO dulu, lalu GEO di tempat pembeli Anda memang bertanya ke AI. Tessar Napitupulu sampai pada kesimpulan yang sama dalam perbandingan efektivitas GEO dan SEO yang ia tulis dalam bahasa Inggris.

SEO klasik biasanya masih cukup untuk usaha yang dicari dengan kueri pendek, seperti nama merek atau layanan di dekat lokasi, dan untuk produk yang keputusan belinya cepat. Kalau pelanggan menemukan Anda di Google Maps lalu menelepon atau mengirim pesan WhatsApp, Google Business Profile yang lengkap dan SEO lokal yang rapi lebih mendesak. Hal yang sama berlaku bila situs masih punya masalah dasar. GEO tidak akan banyak menolong halaman yang belum terindeks.

Dari pengalaman kami, lapisan GEO mulai sepadan bila pembeli Anda meriset panjang sebelum membeli. Contohnya pembeli B2B yang menyusun daftar pendek vendor, atau calon pelanggan yang membandingkan produk keuangan, properti, dan layanan profesional. Tanda lainnya terlihat di data Anda sendiri, yaitu posisi stabil tetapi klik di kueri informasi terus turun, atau pesaing sudah disebut di jawaban AI sementara bisnis Anda belum. Bila AI menggambarkan bisnis Anda dengan salah, itu juga alasan kuat untuk mulai.

Panduan keputusan

SEO Saja atau Ditambah GEO?

Pendapat kami, urutannya tetap SEO dulu. Pertanyaannya, kapan lapisan GEO mulai sepadan dengan biayanya.

SEO klasik masih cukup bila

Pembeli mencari dengan kueri pendek, seperti nama merek atau "servis AC dekat sini"

Keputusan belinya sederhana dan cepat

Situs masih punya masalah dasar, misalnya halaman penting belum terindeks

Pelanggan datang dari Google Maps lalu menelepon atau mengirim WhatsApp

Saatnya menambah GEO bila

Pembeli meriset panjang dan membandingkan beberapa penyedia

Produk atau layanannya kompleks dan butuh banyak informasi sebelum dibeli

Posisi di Google stabil, tapi klik di kueri informasi terus turun

Pesaing sudah disebut di jawaban AI, sementara bisnis Anda belum atau digambarkan salah

Fondasinya sama untuk keduanya. Halaman terindeks, boleh tampil dengan cuplikan, dan situs tetap disertakan di setelan fitur AI generatif Search Console, yang aktif secara bawaan.

Kerangka: Arfadia • Rujukan: Google Search Central, panduan fitur AI generatif di Google Search (diperbarui 10 Juli 2026) • Kaiser dan Schulze, Marketing Science (2026), untuk produk kompleks • contoh kueri bersifat ilustrasi
Created by Arfadia • arfadia.com/blog

Kami menempatkan AEO dan LLMO sebagai bagian dari layanan GEO, yang selalu dikerjakan bersama SEO. Penjelasan singkat kedua istilah itu ada di glosarium AEO dan glosarium LLMO. Perbandingan lengkap ketiganya ada di Beda GEO, AEO, dan LLMO. Untuk gambaran biaya, layanan SEO saja di Arfadia dimulai dari Rp6 juta per bulan. Paket SEO dan GEO dimulai dari Rp15 juta per bulan. Kontrak minimal untuk keduanya enam bulan. Rinciannya ada di halaman Jasa SEO, Jasa GEO Indonesia, dan halaman harga kami.

Kalau pertanyaan Anda lebih spesifik ke ChatGPT, kami membandingkan cara kerja, angka, dan batasnya di ChatGPT SEO vs SEO Biasa.

Penutup

SEO tidak digantikan AI. Yang tergantikan adalah anggapan bahwa peringkat satu otomatis berarti klik. Untuk pasar Indonesia, perubahan ini sudah berjalan. Google menghadirkan AI Overviews di Indonesia dengan dukungan bahasa lokal pada 2024, dan AI Mode tersedia dalam bahasa Indonesia sejak September 2025.

Menurut kami, pilihan yang masuk akal adalah merawat fondasi SEO, menambah bukti yang layak dikutip, lalu mulai mengukur kemunculan merek di jawaban AI. Dari yang kami lihat, memilih salah satu saja sering meninggalkan celah. Di ebook Cited or Silent, Tessar Napitupulu mengupas cara agar merek dikutip ChatGPT, Gemini, Perplexity, dan Claude, sedangkan ebook Found Before They Search memetakan delapan ekosistem pencarian di Indonesia, dari Google dan TikTok sampai ChatGPT. Keduanya gratis dan tersedia dalam bahasa Indonesia, dan tautan bacanya dikirim ke email setelah Anda mengisi formulir pendek.


Pertanyaan yang Sering Diajukan


Apakah SEO sudah mati karena ChatGPT dan AI Overviews?

Belum. Google masih memegang 91,42% pangsa mesin pencari di Indonesia pada Oktober 2026 menurut StatCounter, dan Google menulis bahwa optimasi untuk fitur AI generatif di Search tetap termasuk SEO. Yang menurun adalah klik dari pencarian informasi, bukan kebutuhan akan halaman yang bisa ditemukan.


Apakah AI akan menggantikan SEO sepenuhnya?

Kami tidak membuat prediksi waktu. Yang bisa dipastikan sekarang, fitur AI Google hanya mengutip halaman yang terindeks dan memenuhi syarat cuplikan, sementara ChatGPT dan Perplexity menyertakan tautan sumber saat jawabannya disusun dari penelusuran web. Selama jawaban AI disusun dari halaman web, halaman itu tetap perlu ditemukan dan dipahami.


Apa bedanya SEO dan GEO?

SEO mengoptimasi halaman agar mendapat peringkat dan klik di mesin pencari. GEO mengoptimasi agar merek dan konten muncul sebagai sebutan atau sitasi dalam jawaban yang disusun AI, misalnya di ChatGPT, Perplexity, Gemini, atau AI Overviews. Banyak fondasinya sama, tetapi cara mengukur hasilnya berbeda.


Kenapa trafik organik turun padahal peringkat tidak turun?

Penyebab yang menurut kami patut dicek pertama adalah ringkasan AI di halaman hasil. Dalam data Pew Research Center, saat ringkasan AI tampil, cuma 8% kunjungan yang diikuti klik ke hasil pencarian biasa, dibanding 15% tanpa ringkasan. Cek di Search Console apakah penurunannya terkonsentrasi di kueri informasi.


Apakah backlink masih penting di era AI?

Masih, menurut kami, terutama untuk peringkat. Tapi dalam studi Ahrefs atas 75 ribu merek, sebutan merek di web berkorelasi lebih kuat dengan kemunculan di AI Overviews (0,664) dibanding jumlah backlink (0,218). Korelasi itu bukan bukti sebab akibat, dan Google mengingatkan bahwa mengejar sebutan yang tidak otentik tidak sebermanfaat yang dikira.


Apakah perlu membuat halaman terpisah untuk setiap variasi pertanyaan?

Tidak. Google menulis bahwa membuat konten terpisah untuk setiap variasi pencarian demi memanipulasi peringkat atau jawaban AI melanggar kebijakan penyalahgunaan konten berskala. Satu halaman yang menjawab topik beserta subpertanyaannya secara tuntas, menurut kami, lebih aman dan lebih berguna.


Apakah usaha kecil perlu GEO sekarang?

Belum tentu. Kalau pelanggan menemukan usaha Anda di Google Maps lalu menelepon atau mengirim pesan WhatsApp, Google Business Profile dan SEO lokal biasanya lebih mendesak. GEO mulai penting saat calon pelanggan meminta rekomendasi ke AI untuk kategori atau kota Anda.


Berapa biaya SEO dan GEO di Arfadia?

Halaman harga Arfadia mencantumkan Rp6 juta per bulan sebagai harga awal layanan SEO saja, dan Rp15 juta per bulan sebagai harga awal paket SEO ditambah GEO. Kontrak minimalnya enam bulan untuk keduanya.

Sumber dan Referensi:

  • Google Search Central, panduan mengoptimalkan situs untuk fitur AI generatif di Google Search (diperbarui 10 Juli 2026). developers.google.com
  • Google Search Central, AI features and your website: syarat terindeks dan cuplikan. developers.google.com
  • Google Search Console Help, Generative AI performance report (tersedia untuk semua situs sejak 31 Agustus 2026). support.google.com
  • Google, Expanding AI Overviews and introducing AI Mode (5 Maret 2025): query fan-out. blog.google
  • Google Indonesia, Memperkaya hasil penelusuran, AI Overviews kini hadir di Indonesia (Hema Budaraju, 5 September 2024). blog.google
  • Google, AI Mode is now available in five new languages around the world (8 September 2025). blog.google
  • StatCounter Global Stats, Search Engine Market Share Indonesia (Oktober 2026). gs.statcounter.com
  • OpenAI, Scaling AI for everyone (27 Februari 2026). openai.com
  • McKinsey, New front door to the internet: Winning in the age of AI search (16 Oktober 2025), survei AI Discovery Agustus 2025, n = 1.927. mckinsey.com
  • Forrester, B2B Buyers Make Zero-Click Number One (John Buten, 22 Januari 2026). forrester.com
  • Pew Research Center, Google users are less likely to click on links when an AI summary appears in the results (22 Juli 2025). pewresearch.org
  • Ahrefs, Update: AI Overviews Reduce Clicks by 58% (Ryan Law, 4 Februari 2026). ahrefs.com
  • Kaiser dan Schulze, ChatGPT Referrals to E-Commerce Websites: How Do LLMs Compare Against Traditional Channels? Marketing Science (2026). doi.org
  • Ahrefs, Update: 38% of AI Overview Citations Pull From The Top 10 (Louise Linehan, 2 Maret 2026). ahrefs.com
  • Ahrefs, Only 12% of AI Cited URLs Rank in Google's Top 10 for the Original Prompt (11 Agustus 2025), 15 ribu prompt. ahrefs.com
  • Ahrefs, An Analysis of AI Overview Brand Visibility Factors (75K Brands Studied) (Louise Linehan, 26 Mei 2025). ahrefs.com
  • Profound, AI Search Volatility: Why AI search results keep changing (17 Juli 2025). tryprofound.com
  • OpenAI, Overview of OpenAI Crawlers: OAI-SearchBot. developers.openai.com
  • Perplexity, Perplexity Crawlers: PerplexityBot. docs.perplexity.ai
  • Aggarwal dkk., GEO: Generative Engine Optimization (arXiv 2311.09735, diterima di KDD 2024). arxiv.org
  • Arfadia, halaman harga: SEO saja dan paket Foundation. arfadia.com
0 Comments 0 Comments
0 Comments 0 Comments