Commerce dan Pembayaran

Dua Mesin, Dua Permainan Berbeda

E-commerce Indonesia bukan satu pasar dengan pemimpin dan pesaing kedua. Ini dua sistem dengan logika pembelian berbeda, plus lapisan pembayaran yang bekerja tidak seperti di kebanyakan tempat.

Pembelahan platform, dan kenapa itu penting

Shopee memimpin e-commerce Indonesia, dan TikTok Shop menjadi mesin kedua yang jelas setelah ByteDance mengambil kendali Tokopedia pada Desember 2023 dan menggabungkan operasi belanjanya di Indonesia ke platform itu. Tapi memperlakukan ini sekadar sebagai peringkat justru melewatkan intinya. Kedua platform menghargai perilaku yang sama sekali berbeda, dan strategi yang disetel untuk satu platform berkinerja buruk di platform lainnya.

Shopee, dipandu pencarian

Pembeli datang sudah tahu kira-kira apa yang dicari. Ketersediaan, posisi harga, jumlah ulasan, dan kecepatan pengiriman menentukan listing mana yang menang.

TikTok Shop, dipandu penemuan

Pembeli semula tidak berniat membeli. Kecepatan produksi konten, live commerce, dan ekonomi kreator menentukan apakah produknya ditemui sama sekali.

Pangsa kategori adalah dua kemenangan terpisah

Karena perjalanannya berbeda, pangsa di satu platform hampir tidak memberi tahu apa pun soal pangsa di platform lain. Mengukur yang satu sambil buta pada yang lain bukan model operasi yang layak.

Live commerce bukan kanal sampingan

Video commerce tumbuh dari pangsa yang marjinal terhadap GMV online Indonesia pada 2022 menjadi sekitar seperlima pada 2025. Itu perubahan struktural dalam cara produk ditemukan dan dijual, bukan eksperimen format. Perilaku konversinya berbeda dari listing katalog, dan kebutuhan operasionalnya juga berbeda: live commerce butuh penjadwalan, host, sinkronisasi stok, dan irama konten, bukan ledakan kampanye. Bagi brand asing yang masuk sekarang, ini keputusan kapabilitas yang harus diambil sebelum peluncuran, bukan sesudah.

Masuk Indonesia bukan soal memindahkan platform

Ini soal membangun ulang sistem pengambilan keputusan. Fungsinya terlihat familiar. Yang ada di belakang tiap fungsi, dan bagaimana bagian-bagiannya terhubung, tidak.

FungsiPadanannya di IndonesiaApa yang berbeda
PesanWhatsApp, dipakai sembilan dari sepuluh orang Indonesia setiap bulanBukan aplikasi chat dalam pengertian pemasaran. Ini kanal CRM dan commerce, tapi hampir tidak menjual iklan formal, sehingga absen dari setiap rencana media
Penemuan videoTikTok dengan jangkauan iklan 180 juta, YouTube 151 jutaTikTok menjangkau 88,9 persen orang dewasa 18 tahun ke atas dan memegang waktu harian tertinggi, 1 jam 53 menit
Riset dan pertimbanganGoogle, dengan media sosial hampir setaraPencarian menyumbang 38,3 persen penemuan brand, iklan sosial 37,3 persen. Praktis seri
KomunitasGrup WhatsApp dan kolom komentarSebagian besar tertutup. Alat social listening standar hampir tidak bisa melihatnya
CommerceShopee dan TikTok ShopDua mesin dengan logika berlawanan. Satu dipandu pencarian, satu dipandu penemuan
PembayaranQRIS, satu jalur QR nasionalKebalikan dari fragmentasi. Satu titik penerimaan menjangkau nyaris semua dompet dan aplikasi bank

Jangkauan platform: DataReportal Digital 2026. Pembagian penemuan brand: We Are Social dan Meltwater Digital 2026. Struktur marketplace dan pembayaran: Arfadia Digital Marketing Benchmark Indonesia 2026.

Kesimpulannya berlawanan dengan China

Di China, satu ekosistem mencakup banyak skenario dan pembelian selesai di dalamnya. Di Indonesia platformnya tetap terpisah, dengan dua mesin commerce yang menghargai perilaku berlawanan, tapi keduanya berbagi satu jalur pembayaran. Brand yang datang dengan asumsi tumpukan platform Barat atau super app China akan salah membaca kedua sisinya.

Bagaimana pembeli Indonesia sebenarnya memutuskan

Lima tahap, masing-masing didominasi platform berbeda. Tahap yang paling kurang digarap brand asing adalah yang ketiga.

Perhatian

TikTok dan Instagram

Penemuan berbasis video lebih dulu. TikTok memegang waktu harian tertinggi dari semua platform, 1 jam 53 menit.

Minat

Platform sosial

Enam dari sepuluh orang Indonesia memakai media sosial sebagai kanal utama meriset brand.

Pencarian

Google, dan makin banyak asisten AI

Pencarian masih memimpin penemuan brand dengan 38,3 persen. Lebih dari sepertiga orang Indonesia kini memakai ChatGPT setiap bulan.

Tindakan

Shopee dan TikTok Shop

Live commerce berkonversi 5 sampai 12 persen, sekitar tiga kali listing katalog. Enam puluh persen pembeli video commerce membeli saat sesi live berlangsung.

Berbagi

WhatsApp dan kolom komentar

Komentar dan unggahan sosial menyumbang 32,6 persen penemuan brand, yang memberi umpan ke tahap perhatian pembeli berikutnya.

Waktu harian dan jangkauan platform: DataReportal Digital 2026. Perilaku riset brand dan pembagian penemuan: We Are Social dan Meltwater Digital 2026. Konversi live commerce: Arfadia Digital Marketing Benchmark Indonesia 2026, mengutip e-Conomy SEA 2025.

Tahap ketiga adalah tempat brand asing paling banyak kehilangan pijakan. Sebuah brand bisa menang di tahap perhatian lewat video berbayar dan tetap kehilangan penjualannya, karena pembeli keluar dari platform untuk memverifikasi klaimnya dan tidak menemukan apa pun. Visibilitas pencarian dan AI bukan kanal yang terpisah dari sosial. Ia adalah langkah yang menentukan apakah belanja sosial berkonversi.

QRIS, satu jalur bukan banyak dompet

Di sinilah sebagian besar merchant internasional membangun integrasi yang keliru. Indonesia tidak punya dompet dominan yang perlu Anda integrasikan. Indonesia punya jalur dominan. QRIS, standar QR terpadu yang ditetapkan Bank Indonesia, berada di bawah GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, dan sebagian besar aplikasi bank. Satu titik penerimaan QRIS menjangkau nyaris seluruh populasi yang aktif secara digital, yang artinya mengintegrasikan dompet satu per satu adalah pekerjaan berulang yang mubazir.

Satu kode, semua dompet

Pelanggan membuka aplikasi apa pun yang sudah mereka pakai dan memindai kode yang sama. Tidak perlu deretan logo dompet.

Jangkauan lintas negara

Interoperabilitas QRIS dengan beberapa pasar regional membuat titik penerimaan yang sama juga melayani konsumen yang datang dari negara tersebut.

Jalur agregator adalah standar

Operator asing umumnya masuk lewat agregator lokal berlisensi, bukan mencari lisensi langsung dari bank sentral, karena kepemilikan asing di penyedia jasa pembayaran dibatasi dan kendali suara wajib tetap di pihak domestik.

Di mana brand asing kehilangan waktu

Menjalankan Indonesia sepenuhnya dari luar negeri

Pergudangan lokal memangkas waktu pengiriman, dan waktu pengiriman memengaruhi peringkat marketplace. Produk yang dikirim dari luar negeri setiap ada pesanan cenderung kalah visibilitas dari pesaing yang stoknya lokal.

Meremehkan ekspektasi bahasa

Dukungan yang dijawab dalam bahasa Inggris setelah menunggu lama menciptakan kesan pertama yang sulit dibalik. Respons dalam bahasa lokal adalah ekspektasi, bukan pembeda.

Memperlakukan kedua platform sebagai satu kanal

Satu strategi konten dan harga yang diterapkan ke kedua mesin biasanya berkinerja buruk di keduanya.

Mengintegrasikan dompet satu per satu

Pekerjaan teknis berulang yang justru menghasilkan checkout lebih buruk dibanding satu titik penerimaan QRIS.

Di mana posisi Arfadia

Arfadia tidak menangani logistik, pergudangan, atau perizinan pembayaran. Yang Arfadia kerjakan adalah sisi permintaan: membuat produk mudah ditemukan di platform tempat kategorinya benar-benar berkonversi, memproduksi irama konten yang dibutuhkan platform berbasis penemuan, dan menghubungkan kehadiran marketplace dengan visibilitas pencarian serta AI supaya ketiganya saling menguatkan, bukan berjalan sebagai anggaran terpisah.

Ketentuan platform sering berubah

Struktur komisi, program penjual, dan kelayakan lintas batas di marketplace Indonesia sering berubah dan berbeda menurut kategori. Angka yang dikutip sumber sekunder cepat basi. Pastikan ketentuan terkini langsung ke platformnya sebelum menyusun perhitungan bisnis.

Rujukan utama
  • Standar QRIS Bank Indonesia dan data adopsi yang dipublikasikan
  • Dokumentasi penjual platform Shopee dan TikTok Shop
  • Pemantauan pasar e-commerce Indonesia yang dilaporkan
  • Peraturan Bank Indonesia tentang kepemilikan penyedia jasa pembayaran



Pertanyaan Yang Sering Diajukan

Apakah kami butuh entitas Indonesia untuk berjualan di marketplace?

Tergantung platform dan programnya. Sebagian marketplace menjalankan program penjual lintas batas yang memungkinkan listing tanpa entitas lokal, tapi kategori produk yang menuntut registrasi BPOM atau sertifikasi halal tetap butuh entitas Indonesia atau mitra lokal berlisensi untuk memegang registrasi tersebut.

Shopee atau TikTok Shop, mana yang diprioritaskan?

Tergantung apakah kategori Anda dibeli secara sengaja atau ditemukan. Pembelian yang dipandu pencarian cocok dengan mekanika Shopee, pembelian yang dipandu penemuan cocok dengan TikTok Shop. Bagi sebagian besar brand jawabannya bukan salah satu, melainkan strategi konten dan harga yang berbeda untuk masing-masing.

Apa itu QRIS dan apakah kami membutuhkannya?

QRIS adalah standar pembayaran QR terpadu Bank Indonesia. Satu titik penerimaan QRIS bekerja dengan nyaris semua dompet dan aplikasi bank Indonesia, sehingga mengintegrasikan dompet satu per satu jadi tidak perlu.

Bisakah kami memperoleh lisensi pembayaran langsung?

Kepemilikan asing di penyedia jasa pembayaran Indonesia dibatasi, dan kendali suara wajib tetap di pihak domestik. Sebagian besar operator asing masuk lewat agregator lokal berlisensi, bukan mencari lisensi langsung dari bank sentral.

Seberapa penting live commerce sebenarnya?

Video commerce bergerak dari pangsa marjinal terhadap GMV online pada 2022 menjadi sekitar seperlima pada 2025. Untuk kategori konsumen, ini kanal penemuan utama, bukan eksperimen.

Apakah Arfadia menangani operasional marketplace?

Arfadia bekerja di sisi permintaan: konten, kemudahan ditemukan, dan menghubungkan kehadiran marketplace dengan visibilitas pencarian serta AI. Logistik, pergudangan, dan perizinan pembayaran ada di penyedia spesialis.

Terpajang di mana-mana, tidak ditemukan di mana pun?

Kehadiran marketplace dan visibilitas pencarian adalah dua masalah berbeda. Kami mengerjakan yang kedua.

Hubungi Arfadia Lihat portfolio klien
We use cookies

We use cookies to enhance your browsing experience, analyze traffic, and personalize content. See our Privacy Policy for details.

Cookie Settings
PT Arfadia Digital Indonesia

We use cookies to ensure the website runs optimally and to help us understand how you use our services. You can choose which categories to allow. Read our Privacy Policy.

Necessary Cookies Always Active

Required for basic website functionality. Cannot be disabled.

Analytics Cookies

Help us understand how visitors interact with the website. Data used anonymously.

Marketing Cookies

Used to display relevant ads and measure campaign effectiveness.

Functional Cookies

Enables live chat, social media integrations, and language preferences.

Preferences saved